Wow! Aplikasi Jamur Mikoriza Tingkatkan Produktivitas Pohon dan Penyerapan Karbon, Bagaimana Caranya?

- 17 November 2022, 16:34 WIB
(dari kiri) Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna, peneliti BRIN Profesor Maman Turjaman, dan Presiden Japan Peat Society Profesor Mitsuru Osaki
(dari kiri) Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna, peneliti BRIN Profesor Maman Turjaman, dan Presiden Japan Peat Society Profesor Mitsuru Osaki /dok Paviliun Indonesia/

SEPUTAR CIBUBUR - Pemanfaatan jamur mikoriza bisa memberi manfaat besar untuk peningkatan produktivitas tanaman di lahan gambut sekaligus mampu menyerap dan menyimpan karbon di bawah tanah.

Aplikasi jamur mikoriza dalam skala yang lebih luas bisa mendukung upaya rehabilitasi gambut terdegradasi dan membantu Indonesia dalam upaya pengurangan emisi karbon untuk mencegah perubahan iklim.

“Pemanfaatan jamur mikoriza akan memberi manfaat besar dalam peningkatan stok karbon dan ketahananan kehidupan masyarakat,” kata Kepala Badan Standardisasi Instrumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BSI KLHK) Ary Sudijanto dalam sambutannya secara virtual pada diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP27 UNFCCC di Sharm El Sheikh, Senin, 14 November 2022.

Untuk pengurangan emisi gas rumah kaca, Indonesia telah menyerahkan dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) kepada Sekretariat UNFCC dengan target untuk menurunkan emisi GRK sebesar 31,89% dengan upaya sendiri sebesar 43,20% dengan dukungan Internasional pada tahun 2030.

Selain itu, pada sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use/FOLU) Indonesia menargetkan penyerapan GRK yang lebih tinggi atau setidaknya seimbang dibandingkan emisinya di tahun 2030. Tingkat emisi yang ingin dicapai adalah minus 140 juta ton setara karbondioksida (CO2e).

Presiden Japan Peat Society Profesor Mitsuru Osaki mengingatkan pentingnya merestorasi gambut dalam upaya penurunan emisi karbon.

Menurut dia, gambut yang terdegradasi adalah lahan paling buruk di dunia karena sangat tidak produktif.

Dia mengingatkan, lahan gambut sesungguhnya adalah ekosistem ajaib dimana pohon bisa tumbuh tinggi meski suplai oksigen dan nutrien sangat minim.

Baca Juga: Koper Nyasar Hingga Ditinggal Pesawat, Batik Air Dikomplain Pesohor Tanah Air

Halaman:

Editor: sugiharto basith budiman


Tags

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x