Kerja Sama Iptek Pesisir Indonesia-Jerman Ditingkatkan, Dukung Pencapaian SDG's

- 24 September 2022, 09:03 WIB
Deputi Menko Marvest, Dr. Nani Hendiarti (No.3 dari kiri), Mantan Menko Kemaritiman Prof.Indroyono Soesilo (No.4 dari kiri), Pakar Kelautan dari ZMT-Jerman, Dr. Andreas Kunzmann bersama para ahli kelautan Alumni Jerman, Dalam Lokakarya Ekosistem Pesisir, Jumat 23 September 2022
Deputi Menko Marvest, Dr. Nani Hendiarti (No.3 dari kiri), Mantan Menko Kemaritiman Prof.Indroyono Soesilo (No.4 dari kiri), Pakar Kelautan dari ZMT-Jerman, Dr. Andreas Kunzmann bersama para ahli kelautan Alumni Jerman, Dalam Lokakarya Ekosistem Pesisir, Jumat 23 September 2022 /

SEPUTAR CIBUBUR - Dunia harus bekerjasama untuk menghadapi dampak perubahan iklim, terutama di wilayah pesisir, yang bisa berakibat naiknya muka air laut maupun turunnya permukaan tanah akibat pemanasan Global. 

Demikian disampaikan Deputi Menko Kemaritiman & Investasi, Nani Hendiarti pada acara Lokakarya Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekosistem Pesisir menyambut Hari Maritim 2022, di Jakarta, Jumat 23 September 2022.

Nani menjelaskan bahwa pesisir berada di wilayah daratan dan lautan sehingga masuk bagian dari Sasaran Pembangunan Berkelanjutan, Sustainable Development Goal-SDG 2030, terutama Goal 14 dan Goal 15. 

Baca Juga: Indonesia Ajak Dunia Berbagi Pengetahuan Pengelolaan Mangrove, Rawat Benteng Tsunami dan Perubahan Iklim

Dunia saat ini juga sudah sepakat menghadapi dampak perubahan Iklim Global sesuai Perjanjian Paris tahun 2015 sehingga Indonesia perlu bekerjasama dengan mitra Internasional dan para ahli kelautan Indonesia diharapkan memperluas jaringan, baik didalam negeri maupun dengan mitra mitra luar negeri. 

Nani juga menyampaikan berbagai kerjasama yang saat ini tengah dilaksanakan Indonesia bersama-sama mitra Internasional, antara lain program restorasi ekosistem mangrove, pembangunan World Mangrove Center bekerjasama dengan Jerman dan Program Just Energy Transition Partnership (JETP) diikuti 10 Negara.

Lokakarya yang dihadiri para Ahli Kelautan dari berbagai Instansi dan Universitas alumni program Science for the Protection of Marine Ecosystem (SPICE), kerjasama RI-Jerman tahun 2000-2015, juga menghadirkan pembicara Prof. Dr. Indroyono Soesilo, Mantan Menko Kemaritiman, Dr. Andreas Kunzmann dari Center for Tropical Marine Ecology (ZMT)-Bremen, Jerman dan Prof. Hefni Effendi dari IPB University. 

Baca Juga: Restorasi Ekosistem Riau (RER) Catat Kemajuan Perbaiki Hutan Rawa Gambut, Simak Laporan Terbarunya

Dalam kesempatan tersebut, Indroyono menerangkan awal Program SPICE, yang dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pasca terjadinya bencana El Nino 1997-1998, yang berakibat kemarau panjang, kebakaran hutan dan gagal panen, ternyata dipicu oleh pergerakan “kolam panas” di Perairan Laut Pasifik sepanjang khatulistiwa akibat dinamika arus laut di wilayah perairan Indonesia, yang dikenal dengan fenomena Arlindo. 

Halaman:

Editor: sugiharto basith budiman


Tags

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x